Kulihat banyak rumah pinggir sungai yang sengaja dirapihkan dengan alasan estetika. Aku semakin asing di sini, kota ini terlalu kecil untukku. Tapi lampu jalan selalu menyilaukan seperti memberi harapan untuk kami yang hanya memiliki kaki-kaki kecil. Setiap sudut kota masih bisa kujangkau dan tidak heran banyak kusaksikan penggusuran.  Di sini kami memiliki kedekatan dengan sungai, maka tidak heran masih kuingat jelas seperti apa warna sungai itu dulu.

            Anak-anak yang berenang ketika air pasang, ibu-ibu yang mencuci pakaian di dermaga kecil atau mereka yang tidak memiliki toilet di rumah masih menggunakan jamban. Bapak-bapak yang memancing dan menunggu ikan patin melahap umpannya. Zaman berubah dan sungai juga berubah. Tapi, kenestapaan kami masih melekat di setiap rumah yang miring dan jalan raya yang selalu kebingungan ketika musim hujan sudah tiba. Dan ketika tahun politik tiba, semua janji bersarang di selokan atau bahkan di tepi sungai.

            “Nur, kau gak kerja?” Mira menyentuh pelan pundakku.

            “Gak mir, aku izin. Badanku capek sekali. Tumben kamu sore ke sini.”

            “Itu keponakkanku ngajak jalan-jalan. Yaudah aku ajak ajak liatin sungai ini”

            Aku jelas memiliki setumpuk kekhawatiran. Pasti juga akan tiba rumahku dan rumah Mira yang akan digusur. Pemukiman di sebrang sana, sudah tidak ada lagi. Biasanya setiap sore masih kuliat begitu padatnya rumah-rumah di sana dan juga setiap aktivitas mereka.

            “Gimana Mir, keluargamu sudah cari kontrakkan?” kami sambil menatap keheningan di depan sana.

            “Belum Nur, mahal sekali harga kontrak rumah sekarang. Kalau aku gunakan semua gajiku, aku gak bisa bantu buat harian kebutuhan rumah”

            “Sialnya nasib orang-orang kecil kayak kita Mir. Aku yakin bulan depan rumah kita akan didatangi oleh seseorang untuk segera bergegas pindah”

            “Ya, lagipula tidak banyak yang bisa kita lakukan selain selalu patuh. Kita juga tidak bisa menuntut apapun Nur”

            Mira adalah kawanku sejak kecil, kami tumbuh bersama sebagai mimpi kanak-kanak yang dilukai dan takut untuk mekar. Dewasa ini kami cukup akrab dan saling tahu atas kondisi masing-masing. Aku mengerti ada ketakutan di matanya. Tapi, sebagai kawan senasib apa yang bisa aku lakukan selain menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah.

            “Bapakku juga sibuk berjudi dan mabuk. Cuman aku sama mamakku yang cari uang. Tiap pulang mabuk mamakku selalu dipukul. Aku pengen banget bunuh dia Mir” sambil kutinggalkan senyum mengejek di wajahku. Mira menepuk pundakku dan kita tertawa bersama.

            Seolah tawa itu menelan isi kepala kami sendiri. Aku melihat kami terlalu dini untuk menanggung beban itu. Tapi, nasib orang kecil selalu mengantarkan ke tempat yang paling terpencil hingga suara kami yang parau bahkan tidak akan pernah terdengar. Di atas sana orang-orang tidak memikirkan rumah dan makan tapi kami selalu diajarkan untuk berusaha, sabar, dan berdoa.

***

              “Pak, kau bangunlah. Ini sudah pagi, kau mabuk terus setiap malam. Kau gak kepikir yah, ini rumah bakal di gusur”

            Kudengar Ibu yang berteriak membangunkan Bapak, aku tidak heran dengan suasana seperti ini di pagi hari. Kulihat Bapak yang selalu lusuh dan bermata merah langsung duduk di pinggir kasur. Ia menatap Ibu tajam.

            “Heh, kau gak usah bahas aku mabuk ini itu. Yasudah kalau diusir tinggal pindah, repot banget. Jual aja itu motor satu, biar bisa ngontrak rumah yang baru.”

            Aku selalu geram ketika Bapak selalu menyepelekan segala hal. Tapi aku selalu dianggap anak kecil jika aku membuka suara. Aku yakin adegan apa selanjutnya….

            “Kamu itu kepala rumah tangga, aku banting tulang. Kamu biarkan anak perempuanmu malah yang bekerja. Liat dia masih umur 19 tahun tapi sudah kerja banting tulang, gak kenal hari libur bahkan gak bisa jalan dengan teman-temannya. Kamu apa Pak, tiap malam judi, mabuk. Brengsek!”

            Plakkk..

            Tangan Bapak mendarat dengan kemarahan yang mengakar di pipi Mamakku. Ibu hanya bisa menangis dan kuliat matanya yang terbakar isi kepalanya sendiri. Aku lantas berdiri dan menarikku Ibu untuk ke kamarku.

            Tokk..Tokk…

            Kudengar seorang mengetuk pintu rumah kami. Aku berjalan ke arah pintu, seorang bersepatu laras dan berseragam. Sial, sudah tiba saatnya. Aku menatap tajam ke matanya, tapi matanya yang liar melihat diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Entah kenapa, apa karena aku menggunakan pakaian santai. Tapi, bukannya ini tidak jadi soal. Ya, karena ini di rumah aku wajar menggunakan pakaian sangat santai.

            “Ya, Pak. Ada apa?”

            “Saya dari dinas, mau memberikan informasi. Rumah ini sudah harus ditinggalkan dalam waktu satu minggu. Ini sesuai dengan kesepakatan karena kami sudah memberikan kompensasi ke Bapaknya mba. Kami mau merapikan rumah-rumah pinggir sungai”

            Aku tertegun mendengar semuanya, sejak kapan Bapak menerima uang itu. Sesuatu di badanku mengalir begitu deras, aku masih menahan airmataku di bagian terdalam. Tidak satu katapun keluar dari mulutku.

            “Itu aja ya Mba, tolong kasih tau orangtuanya Mba”

            Aku berjalan lemas dan mengatakan kepada Bapak dengan segala amarah yang sudah tiba di kepalaku. Sementara kuliat Mamakku dengan wajahnya yang murung sedang memasak

            “Kita harus pindah rumah dalam waktu cepat. Kapan Bapak menerima uang dari mereka?”

            Ibu mematikan kompornya dan mendekat ke arahku dan Bapak.

            “Hah kau ngomong apa sih? Bapak gak ada dapat uang dari siapapun” Kulihat wajah Bapak yang cemas. Aku tau ia berbohong. Dia adalah Bapakku, aku sangat mengenalinya!

            “Aku gak tau Bapak bohong atau gimana, itu terserah Bapak. Bapak harus bertanggung jawab. Kita harus segera pindah sebelum diusir paksa”

            “Kau memang keterlaluan Pak” nada mamakku gemetar. Kulihat ia menangis.

***

            Sudah tiba waktunya, keluargaku terpaksa pindah. Kulihat mesin penghancur sudah tiba. Semua yang tinggal di daerah sini sibuk membawa barang-barang. Aku menyaksikan nanar, sungai itu kesepian dan tidak akan ada aktivitas lagi di sana. Tidak akan adalagi orang yang menyuci di sungai atau sekadar mandi dan menyikat gigi.

            Tidak ada yang benar-benar bisa kita lakukan, ya! Karena kami hanya orang-orang kecil yang akan selalu ditindas. Kami bahkan tidak memiliki suara yang nyaring atau memang suara kami yang tidak akan pernah didengar. Kami seperti bagian lain dari semesta ini yang tidak akan pernah diperhitungkan keadaannya.

            Ya, sudah tiba saatnya ketika kenestapaan kami akan berulang. Air mata kami sudah habis dan tidak pernah cukup untuk membayar setiap perlakuan yang menimpa orang-orang seperti kami. Paling tidak cuaca cukup bagus hari ini untuk kami yang mengangkut kasur, bantal, dan meja yang sudah tua.

Penulis : Esty Pratiwi Lubarman

Tentang Penulis : Lahir di Samarinda 28 Novemberi 1999. Alumni Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Indonesia Universitas Mulawarman. Pada tahun 2019 pernah menerbitkan antologi puisi berjudul “Perempuan Dikekang Malam”. Tergabung dalam komunitas pegiat sastra bernama Mantra Etam dan juga tergabung dalam komunitas penanganan korban kekerasan seksual bernama Savrinadeya Support Group.

Loading