
KRONIKAL.ORG, SAMARINDA — Festival Ma’teddu Subuh 2026 yang digelar di Jalan Mangkupalas RT 12, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Jumat malam (13/3/2026), berlangsung meriah. Kegiatan bertema “Melalui Festival Ma’teddu Subuh Kita Pererat Tali Silaturahmi dan Mempererat Ukhuwah Islamiyah” ini menjadi ruang kreativitas pemuda sekaligus mempererat kebersamaan warga selama Ramadan.
Festival yang berlangsung sejak pukul 21.00 WITA hingga menjelang subuh itu diikuti 48 tim dari berbagai daerah, termasuk Samarinda dan sejumlah wilayah di Kutai Kartanegara. Para peserta menampilkan atraksi beduk sahur dengan penilaian meliputi kekompakan tim, unsur musik, serta pesan keagamaan.
Ketua panitia, Kaisar Fajri, mengatakan tingginya partisipasi peserta menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tradisi Ramadan tersebut.
“Total peserta ada 48 tim. Bahkan ada yang datang dari Sanga-Sanga. Penilaiannya meliputi kekompakan, musik, dan unsur keagamaan,” ujarnya.
Camat Samarinda Seberang, Syamsu Alam, mengapresiasi inisiatif para pemuda yang mampu menghadirkan kegiatan positif di tengah masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat bagus karena mengasah kreativitas pemuda sekaligus menjadi ajang silaturahmi. Antusiasme masyarakat juga sangat tinggi,” katanya.
Ketua RT 12 Kelurahan Mesjid, Hendra, menyebut festival tersebut turut menghidupkan kembali tradisi membangunkan sahur yang sempat lama tidak digelar di lingkungan tersebut.
“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Selain menjadi hiburan Ramadan, kegiatan ini juga mempererat silaturahmi antarwarga,” ucap Hendra.

Sementara itu, Andi Saharuddin yang juga Anggota DPRD Kota Samarinda sekaligus pembina komunitas Restil menjelaskan bahwa festival ini lahir dari semangat komunitas pemuda untuk menjaga tradisi sekaligus membangun kreativitas generasi muda.
Ia menerangkan istilah Ma’teddu Subuh berasal dari bahasa Bugis yang berarti membangunkan orang untuk sahur. Tradisi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk festival agar menjadi wadah berkumpulnya para pemuda dari berbagai daerah.
“Ma’teddu itu artinya membangunkan orang untuk sahur. Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk berkarya dan berkreativitas,” terangnya.
Menurut Andi, komunitas Restil sejak awal memang dibentuk sebagai wadah menghimpun generasi muda agar terhindar dari kegiatan negatif. Melalui kegiatan seperti festival ini, kolaborasi antara generasi muda dan senior diharapkan dapat terus mendorong lahirnya kegiatan positif di masyarakat.
“Tujuan kami sederhana, bagaimana anak-anak muda punya ruang untuk berkreasi dan berkarya. Selama itu untuk kebaikan pemuda, tentu akan terus kami dukung,” timpal Andi Saharuddin.
![]()

