
KRONIKAL.ORG, JAKARTA — PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang 2025 dengan laba bersih mencapai Rp5,5 triliun. Capaian tersebut tumbuh sekitar 12 persen secara tahunan (year on year/YoY) dan melampaui ekspektasi pasar.
Kinerja solid tersebut ditopang oleh lonjakan laba pada kuartal IV 2025. Pada periode tersebut, ISAT membukukan laba bersih sebesar Rp1,9 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya, mencerminkan perbaikan kinerja operasional di akhir tahun.
Dari sisi profitabilitas, Indosat mencatatkan EBITDA yang relatif stabil sepanjang 2025 dengan margin bertahan di kisaran 47 persen. Secara tahunan, EBITDA tumbuh tipis seiring dengan strategi perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan efisiensi biaya operasional.
Secara operasional, laba usaha ISAT sepanjang 2025 berada di kisaran Rp10,8 triliun. Kinerja ini didukung oleh peningkatan pendapatan serta langkah efisiensi yang menekan beban operasional. Meski demikian, kenaikan beban pokok pendapatan masih menjadi tantangan yang harus dikelola perseroan.
Perbaikan kinerja terlihat jelas pada kuartal IV 2025, ketika pendapatan perusahaan mencatatkan pertumbuhan yang lebih kuat. Salah satu pendorong utamanya adalah peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna (average revenue per user/ARPU) yang mencapai sekitar Rp44 ribu. Angka ini menjadi level tertinggi sejak Indosat menyelesaikan proses merger pada 2022.
Direktur Utama ISAT, Vikram Sinha, dalam siaran pers yang dikutip Senin (09/02/2026), mengungkap kenaikan ARPU tersebut didorong oleh kondisi persaingan harga di industri yang semakin rasional, peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan, serta penerapan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk personalisasi layanan. Di sisi lain, jumlah pelanggan tercatat sedikit menurun, namun tidak signifikan, sehingga kenaikan ARPU tetap mampu menjaga pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan.
Selain bisnis seluler, segmen multimedia, data communication, dan internet (MIDI) juga mencatatkan kinerja positif. Pada kuartal IV 2025, pendapatan segmen ini tumbuh dua digit, didorong oleh kontribusi bisnis baru berbasis layanan komputasi grafis atau GPU-as-a-Service (GPUaaS) yang mulai beroperasi sejak September 2025.
Vikram menyebutkan bahwa bisnis GPUaaS telah membukukan pendapatan sekitar US$20 juta pada kuartal IV 2025. Ke depan, kontribusi bisnis ini diproyeksikan terus meningkat dengan target pendapatan mencapai US$50–60 juta pada 2026, seiring kontrak yang telah dikantongi perseroan.
Dari sisi strategi jangka menengah, Indosat juga bersiap menerima dana sekitar US$700 juta pada 2026 dari transaksi pengalihan jaringan fiber optik dalam rangka pembentukan entitas FiberCo. Meski hanya memiliki 45 persen saham dan tidak mengonsolidasikan laporan keuangan FiberCo, Indosat tetap memegang kendali operasional.
“Pembentukan FiberCo akan membuka peluang pertumbuhan baru, khususnya di segmen fiber-to-the-home (FTTH), sekaligus memperkuat posisi Indosat dalam ekosistem digital dan infrastruktur telekomunikasi nasional,” tutupnya.
Dengan capaian kinerja tersebut, manajemen Indosat optimistis momentum pertumbuhan, khususnya dari peningkatan ARPU dan bisnis digital, dapat berlanjut pada 2026.
![]()

