KRONIKAL.ORG, CIANJUR – Sejumlah keturunan Kesultanan Paser bersama pemerhati sejarah melakukan ziarah ke makam Sultan Ibrahim Chaliluddin di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (28/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenang sekaligus merawat jejak perjuangan Sultan terakhir Kesultanan Paser yang diasingkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda hingga akhir hayatnya.

Ziarah diikuti Ketua Yayasan Aji Galeng Bambang Arwanto, Ketua Yayasan Ibrahim Chaliluddin Aji Beni, serta keluarga keturunan ketiga dan keempat Sultan Ibrahim Chaliluddin. Selain memanjatkan doa, rombongan juga mengenang kiprah sang sultan yang dikenal gigih memperjuangkan kedaulatan Kesultanan Paser dan membela kepentingan rakyatnya.

Ketua Yayasan Aji Galeng, Bambang Arwanto, mengatakan ziarah tersebut bukan sekadar kunjungan keluarga, melainkan bentuk penghormatan terhadap perjuangan tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Kalimantan Timur.

“Ini bukan hanya ziarah keluarga. Kami datang untuk mengenang perjuangan beliau yang rela kehilangan takhta, kebebasan, bahkan tanah kelahirannya demi mempertahankan kehormatan rakyat Paser,” kata Bambang saat dikonfirmasi, Minggu (31/05/2026).

Menurutnya, sejarah perjuangan Sultan Ibrahim Chaliluddin perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.

“Generasi muda harus mengetahui bahwa Kalimantan Timur memiliki tokoh besar yang ikut berjuang untuk bangsa ini. Sejarah seperti ini harus terus dirawat dan diwariskan,” ujarnya.

Foto: Keluarga keturunan Kesultanan Paser
Foto: Makam Sultan Ibrahim Chaliluddin di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

Sultan Ibrahim Chaliluddin merupakan Sultan terakhir Kesultanan Paser yang memerintah pada periode 1900 hingga 1906. Dalam berbagai catatan sejarah, ia dikenal sebagai pemimpin yang menentang kebijakan kolonial Belanda yang dinilai merugikan rakyat dan mengurangi kedaulatan kerajaan.

Selain melalui jalur pemerintahan, perjuangannya juga dilakukan lewat organisasi pergerakan. Sultan Ibrahim Chaliluddin tercatat menjadi tokoh penting Sarekat Islam Cabang Paser yang berkembang di Kalimantan pada awal abad ke-20.

Perlawanan rakyat Paser terhadap pemerintah kolonial pada 1915 hingga 1916 membuat Belanda menganggap Sultan Ibrahim Chaliluddin sebagai salah satu tokoh berpengaruh di balik gerakan tersebut. Ia kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman pengasingan seumur hidup.

Sejak saat itu, Sultan Ibrahim Chaliluddin tidak pernah kembali ke tanah Paser. Ia menjalani sisa hidupnya di Cianjur hingga wafat pada 19 Oktober 1930 dan dimakamkan di daerah tersebut.

Ketua Yayasan Ibrahim Chaliluddin, Aji Beni, mengatakan perjuangan sang sultan layak mendapat pengakuan lebih luas di tingkat nasional.

“Beliau bukan hanya tokoh Kesultanan Paser, tetapi juga bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Karena itu kami berharap jasa-jasa beliau mendapatkan pengakuan yang layak dari negara,” ujarnya.

Saat ini, nama Sultan Ibrahim Chaliluddin tengah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Jika usulan tersebut disetujui pemerintah pusat, beliau akan menjadi Pahlawan Nasional kedua dari Kalimantan Timur setelah Sultan Muhammad Idris.

Aji Beni menilai pengakuan tersebut penting untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan rakyat Paser yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.

“Beliau memilih jalan perjuangan meskipun harus menjalani pengasingan hingga akhir hayat. Semangat dan keberanian seperti inilah yang perlu dikenalkan kepada generasi sekarang,” tandasnya.

Loading