KRONIKAL.ORG, SAMARINDA — Upaya menjaga warisan budaya Kalimantan Timur terus digerakkan melalui pendekatan yang lebih membumi. Salah satunya lewat Workshop Menenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar yang digelar di Aula SDN 008 Samarinda Utara, Sabtu (11/4/2026), yang tak hanya menyasar pelestarian tradisi, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.

Kegiatan ini melibatkan peserta lintas usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Format tersebut sengaja dipilih untuk memastikan transfer pengetahuan budaya tidak terputus, sekaligus memberi ruang bagi generasi produktif untuk melihat potensi ekonomi dari kerajinan tradisional.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Lestari, menegaskan bahwa ulap doyo dan sulam tumpar bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas budaya yang harus dijaga bersama.

“Pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama, lintas generasi dan lintas latar belakang,” ujarnya.

Pemilihan wilayah Lempake sebagai lokasi kegiatan dinilai strategis, mengingat kawasan tersebut dihuni masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Dengan pendekatan inklusif, pelestarian budaya diharapkan tidak eksklusif pada kelompok tertentu, tetapi menjadi milik bersama.

Tak berhenti pada aspek budaya, workshop ini juga diarahkan sebagai pintu masuk penguatan ekonomi kreatif. Kerajinan ulap doyo dan sulam tumpar dinilai memiliki nilai jual yang potensial jika dikelola secara serius dan berkelanjutan.

Bagi peserta dewasa, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus peluang untuk mengembangkan usaha berbasis budaya lokal. Sementara bagi pelajar, workshop ini menjadi sarana pendidikan karakter yang menanamkan kecintaan terhadap identitas daerah sejak dini.

“Kalau ini terus dikenalkan, dari anak-anak sampai orang dewasa, kami optimistis warisan ini tidak akan hilang. Justru bisa menjadi kebanggaan sekaligus sumber penghidupan,” tutup Lestari.

Loading