Opini: Desi Iska Fadhila, S.Par., M.Par.Mahasiswa S3 Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarman

KRONIKAL.ORG, OPINI — Di Tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, muncul kekhawatiran baru di dunia pendidikan. Apakah kecerdasan buatan membantu mahasiswa berpikir lebih tajam atau justru diam–diam membuat mereka malas berpikir? Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan semakin familiar digunakan mahasiswa untuk membantu menyelesaikan tugas kuliah. Generasi Digital terus menuntut semua orang untuk melek teknologi agar tidak ketinggalan zaman dan mampu beradaptasi pada perubahan yang terjadi begitu cepat. Sejak pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1950 melalui konsep Uji Turing untuk mengukur kemampuan mesin meniru perilaku manusia, AI terus berkembang hingga dikenal sebagai asisten virtual yang mampu memberikan penjelasan dan analisis dalam waktu yang singkat.

Di sisi lain, mahasiswa cenderung menggunakan AI sebagai alat bantu tidak terlepas dari tekanan akademik yang mereka hadapi. Tugas yang menumpuk, deadline waktu terbatas, serta berbagai  aktivitas lain yang sering membuat mahasiswa mencari cara yang dianggap lebih efektif dan efisien. Dalam kondisi seperti ini, AI dalam pendidikan menjadi alat yang sangat menggoda karena mampu memberikan jalan pintas (shortcut) dengan jawaban yang cepat, instan, dan praktis tanpa melalui proses menganalisis yang panjang. 

Namun pada realitasnya, penggunaan AI pada kalangan mahasiswa kini sering melampaui fungsi awalnya yang hanya sebagai alat bantu. Tidak sedikit mahasiswa yang menjadikan AI sebagai shortcut (jalan pintas) untuk menyelesaikan tugas perkuliahan. Bahkan dalam proses penyusunan seperti Tugas akhir yakni Skripsi, Tesis dan Disertasi, sebagian mahasiswa mengakui memanfaatkan AI untuk menyusun kerangka berpikir, menulis paragraf, hingga menghasilkan jawaban yang lengkap. Lalu pertanyaannya sekarang, apakah AI (kecerdasan buatan) benar–benar membantu proses belajar atau justru sebenarnya lambat laun melemahkan kemampuan berpikir mahasiswa? 

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital mahasiswa belum sepenuhnya matang dan harus diperkuat. Banyak mahasiswa yang mampu menggunakan teknologi dengan cepat, namun belum tentu memahami batas serta tanggung jawab dalam penggunaannya. Padahal dalam konteks pendidikan, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkaya proses belajar, bukan menggantikan proses berpikir. Mahasiswa tetap perlu membaca referensi, beragam sumber, membandingkan argumen, serta menyusun gagasan sebelum memanfaatkan bantuan teknologi. Tanpa proses tersebut, maka Bahasa yang dihasilkan terlihat rapi dan sistematis. Namun tidak mencerminkan pemahaman yang mendalam. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, maka pendidikan berisiko menghasilkan lulusan yang terbiasa menerima jawaban secara instan, tapi kurang terlatih dalam membangun daya pikir yang kritis.

Seharusnya teknologi diciptakan untuk membantu memudahkan manusia berpikir lebih luas dan menemukan berbagai kemungkinan baru. Namun dalam implementasinya, kondisinya justru sering berlawanan arah. Mahasiswa mulai menyerahkan sepenuhnya tugas tersebut pada mesin. Padahal dalam dunia pendidikan, proses berpikir kritis jauh lebih penting daripada sekadar melihat hasil akhir. Tanpa proses membaca, menganalisis, dan menyusun gagasan secara mandiri, kemampuan intelektual mahasiswa terancam melemah. Jika kondisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin akan muncul kelumpuhan cara berpikir akibat ketergantungan terhadap teknologi. 

Fenomena penggunaan AI dalam dunia pendidikan ini semestinya menjadi bahan refleksi. Sistem pembelajaran di perguruan tinggi tidak seharusnya hanya menilai dari hasil akhir dari sebuah tugas, namun juga memperhatikan proses berpikir yang dilalui mahasiswa. Jika pendidikan hanya berfokus pada produk tulisan semata, maka AI sebagai alat yang instan akan membuat ketergantungan mahasiswa dan sulit dihindari. Oleh karena itu dosen serta institusi pendidikan perlu mendorong model pembelajaran yang lebih menekankan pada diskusi, analisis sehingga meningkatkan daya pikir yang kritis serta berkualitas. 

Di Tengah perkembangan teknologi yang terus melesat, tantangan terbesar pendidikan bukan terletak pada kemajuan teknologi saja, namun kemampuan manusia dalam memperluas wawasan dan daya pikir. Ketergantungan yang berlebihan terhadap mesin dikhawatirkan dapat menimbulkan krisis terhadap kemampuan analisis dan kreativitas di kalangan mahasiswa. 

Teknologi tidak pernah salah. Kehadiran kecerdasan buatan tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi dunia pendidikan. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung dalam proses belajar. Namun yang perlu diwaspadai adalah jika manusia mulai menyerahkan sepenuhnya proses berpikir pada teknologi. Yang perlu dijaga ialah: manusia semestinya tetap menggunakan akal dan nalar pada proses belajar, baik dalam mengasah kemampuan analitis, maupun mempertahankan gagasan. Jika proses berpikir mulai digantikan mesin, maka pendidikan sedang kehilangan ruhnya.

Loading