
KRONIKAL.ORG, BALIKPAPAN — Senja turun pelan di Balikpapan Baru, Selasa (28/4/2026). Lampu-lampu mulai menyala, kendaraan masih lalu-lalang, dan satu hal yang hampir pasti terjadi di jam seperti ini: orang mulai mencari makan.
Pilihan di kawasan ini sebenarnya tidak sedikit. Tapi ada satu tempat yang belakangan makin sering disebut dari mulut ke mulut, tanpa banyak gimik: Dapur Oma Ing.
Malam itu, salah satu yang datang adalah Jerison Togelang. Namanya cukup dikenal di lingkar media Kalimantan. Ia mengelola NusaUtaraTV.com, mendirikan SekdaTV.com, dan kini menjabat Ketua Persatuan Jurnalis Indonesia Kalimantan Timur.
Tidak ada seremoni. Ia datang seperti pengunjung lain, duduk, memesan, lalu makan.
Pilihan itu, setidaknya dari yang ia rasakan, bukan tanpa alasan.
“Rasanya pas. Menunya banyak, jadi ada pilihan. Tempatnya juga nyaman,” katanya singkat.
Tidak ada klaim berlebihan. Tapi justru dari situ, kesan yang muncul terasa lebih jujur.
Dapur Oma Ing memang tidak mencoba tampil mencolok. Tidak ada konsep yang dibuat terlalu modern, tidak pula mengandalkan branding yang berisik. Yang bekerja justru hal-hal sederhana: rasa yang konsisten dan suasana yang tidak memaksa.
Masakan yang disajikan cenderung familiar. Seperti makanan rumah yang tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Bumbu tidak berusaha mengejutkan, tapi cukup untuk membuat orang ingin kembali.
Di beberapa meja, pengunjung datang dengan alasan yang berbeda. Ada keluarga yang makan bersama, pekerja yang singgah sepulang kantor, sampai orang-orang yang sekadar ingin duduk lebih lama tanpa merasa tergesa.
Tempatnya tidak luas, tapi cukup lega. Tidak ramai berisik, juga tidak sepi. Ada ritme yang terasa pas untuk ukuran tempat makan harian.
Menariknya, Dapur Oma Ing seperti tidak pernah memilih siapa yang harus datang. Ia tidak membangun citra eksklusif, tapi juga tidak kehilangan karakter.
Mungkin itu sebabnya, tanpa banyak promosi, tempat ini perlahan menemukan jalannya sendiri.
Di tengah banyaknya pilihan kuliner yang berlomba menarik perhatian, Dapur Oma Ing justru berdiri dengan cara yang lebih sederhana: cukup membuat orang betah, lalu datang kembali.
Dan di kota seperti Balikpapan, itu sering kali lebih dari cukup.
![]()

