KRONIKAL.ORG, KUTAI KARTANEGARA — Setelah sempat terpukul akibat gagal panen, perekonomian Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, mulai menunjukkan pemulihan signifikan di awal 2026. Sektor pertanian kembali menjadi penopang utama, disusul geliat usaha mikro dan program Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mulai berjalan.

Kepala Desa Bhuana Jaya, Frend Effendi, menyebut perbaikan ekonomi ini tak lepas dari keberhasilan musim tanam terbaru yang jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun kemarin sempat gagal karena serangan hama. Tapi di akhir tahun sampai awal 2026 ini, panen kita alhamdulillah berhasil,” ujarnya saat ditemui, Selasa (7/4/2026).

Desa eks-transmigrasi yang juga dikenal sebagai Separi III sendiri memiliki sekitar 650 hektare lahan persawahan, di mana seluas 17 hektare merupakan lahan eks-tambang yang dimanfaatkan menjadi area pertanian produktif. Dengan pola tanam dua kali setahun, keberhasilan panen kali ini berdampak langsung terhadap pendapatan petani.

Selain padi, warga juga mengandalkan komoditas hortikultura seperti tomat, cabai, gambas, kacang, jagung, dan timun. Beberapa komoditas bahkan mengalami lonjakan harga, terutama saat Ramadan.

“Cabai itu sempat sangat mahal, tomat juga lumayan bagus. Secara umum tahun ini harga lebih stabil dibanding sebelumnya,” katanya.

Di luar sektor pertanian, pemerintah desa mulai mendorong penguatan ekonomi melalui BUMDes. Saat ini, BUMDes Bhuana Jaya mengembangkan sejumlah unit usaha, mulai dari ritel sembako hingga peternakan.

Salah satu program yang berjalan adalah TDM Mart, yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau melalui kerja sama dengan distributor. Selain itu, BUMDes juga mengelola program penggemukan sapi berbasis kemitraan dengan masyarakat.

“Pengelolaannya oleh warga, nanti hasilnya dibagi. Ada skema 60:40 dan 50:50,” jelas Frend Effendi.

Tak hanya itu, desa juga mulai mengoperasikan pabrik kompos sebagai bagian dari upaya penguatan sektor pertanian berkelanjutan.

Kepala Desa Bhuana Jaya, Frend Effendi memamerkan produk UMKM unggulan desa berupa keripik jamur dan keripik pisang.

Di sektor usaha kecil, geliat UMKM mulai terlihat. Produk seperti keripik jamur dan jamu tradisional menjadi unggulan lokal yang mulai dikenal di wilayah sekitar, meski pemasaran masih terbatas pada pasar tradisional.

“Keripik jamur ini menarik, karena pelaku usahanya produksi sendiri dari hulu ke hilir. Bahkan sekarang sudah sering jadi narasumber pelatihan,” ungkapnya.

Namun demikian, keterbatasan bahan baku masih menjadi tantangan, terutama untuk produksi jamur yang belum mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Pemerintah desa juga mulai mendorong digitalisasi pemasaran melalui pelatihan yang difasilitasi sejumlah dinas, termasuk Dinas Koperasi dan Kominfo. Meski saat ini mayoritas warga masih mengandalkan platform sederhana seperti Facebook, langkah menuju pemasaran digital mulai diperkenalkan.

“Ke depan kita dorong e-commerce, karena sekarang semua sudah serba digital,” katanya.

Frend Effendi menilai, secara keseluruhan terjadi peningkatan ekonomi desa dibanding tahun sebelumnya. Ia memperkirakan pertumbuhan mencapai sekitar 45 persen, didorong oleh kombinasi sektor pertanian, UMKM, dan dukungan program pemerintah.

Untuk jangka panjang, pemerintah desa menyiapkan pengembangan desa wisata sebagai sumber ekonomi baru. Potensi air terjun dan budidaya anggrek endemik menjadi daya tarik yang tengah dikembangkan.

“Kalau wisata berjalan, otomatis perputaran ekonomi akan ikut meningkat,” ujarnya.

Di sisi lain, tantangan tetap ada, terutama dalam mengarahkan minat generasi muda. Menurutnya, sebagian besar pemuda masih lebih tertarik pada sektor pertambangan dan perbengkelan dibanding pertanian.

Meski begitu, pemerintah desa tetap berupaya melibatkan pemuda melalui kelompok tani milenial dan berbagai pelatihan keterampilan.

“Pemuda tetap kita dorong terlibat. Mereka ini sebenarnya kunci masa depan ekonomi desa,” pungkasnya.

Loading