
KRONIKAL.ORG, KUTAI KARTANEGARA — Desa Bukit Pariaman, Kecamatan Tenggarong Seberang, masih bertumpu pada sektor pertanian sebagai penggerak utama ekonomi. Namun di tengah berbagai keterbatasan, pemerintah desa mulai mendorong penguatan infrastruktur, diversifikasi usaha, hingga peningkatan kapasitas masyarakat untuk menjaga laju pertumbuhan.
Kepala Desa Bukit Pariaman, Sugeng Riyadi, melalui sekretaris desa, Samijan, menyebut padi sawah tetap menjadi tulang punggung ekonomi warga. Pola ini relatif tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir, meski dinamika ekonomi desa terus bergerak.
“Rata-rata masih di sektor pertanian, terutama padi sawah. Hampir sama dengan desa sekitar dan sangat tergantung musim,” ujarnya.
Ketergantungan pada sistem tadah hujan menjadi persoalan klasik yang belum sepenuhnya teratasi. Saat curah hujan tidak menentu, hasil panen ikut terdampak. Kondisi ini diperberat dengan berkurangnya aktivitas perusahaan di sekitar desa, yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah desa memilih memperkuat fondasi sektor pertanian. Pembangunan jalan usaha tani dan sistem drainase menjadi prioritas untuk memperlancar distribusi hasil panen sekaligus menjaga produktivitas lahan.
“Program desa masih fokus ke pertanian, terutama akses jalan tani dan drainase,” kata Samijan.

Desa Bukit Pariaman memiliki potensi lahan pertanian cukup luas, mencapai lebih dari 900 hektare. Aktivitas ini ditopang oleh sekitar 24 kelompok tani dan satu gabungan kelompok tani (gapoktan), serta tambahan kelompok tani hutan yang mulai berkembang.
Pemerintah desa juga menargetkan peningkatan intensitas tanam dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Namun, rencana tersebut masih terbentur keterbatasan infrastruktur pengairan yang belum memadai.
Di luar pertanian, upaya diversifikasi ekonomi mulai terlihat. Sejumlah warga mengembangkan komoditas lain seperti kelapa dalam di Dusun Barambai sebagai sumber pendapatan tambahan.
Sementara itu, sektor UMKM tumbuh perlahan. Produk rumahan seperti keripik tempe, keripik pisang, kerupuk, hingga gula aren mulai diproduksi, meski masih berjalan secara mandiri dan belum terorganisir dalam skala industri.
“Sudah ada pelatihan dan pendampingan, termasuk sertifikasi halal dan kemasan, tapi belum terstruktur,” jelasnya.
Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga masih dalam tahap penguatan. Saat ini, BUMDes lebih banyak berfungsi sebagai mitra perusahaan, seperti penyedia bahan baku sesuai kebutuhan industri.
“Belum sampai ke tahap menampung dan memasarkan produk masyarakat,” ujar Samijan.
Tantangan lain muncul dari sisi sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Minat berwirausaha dinilai masih rendah karena sebagian besar pemuda memilih bekerja di perusahaan.
Program pelatihan yang pernah digelar, seperti budidaya maggot dan peternakan, belum berkelanjutan karena ditinggalkan ketika peserta kembali bekerja.
“Mindset-nya masih ingin jadi karyawan,” katanya.
Meski begitu, pemerintah desa tetap mencoba membuka ruang baru melalui berbagai program pelatihan keterampilan dan kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD). Salah satunya pelatihan barber shop yang diharapkan bisa menjadi alternatif usaha bagi pemuda.
Ke depan, Bukit Pariaman menempatkan kolaborasi sebagai kunci. Penguatan sektor pertanian tetap berjalan, namun dibarengi dengan dorongan pada UMKM dan peningkatan keterampilan masyarakat.
“Strateginya memperkuat kerja sama dengan dinas dan OPD, supaya ekonomi desa bisa berkembang lebih luas,” pungkas Samijan.
![]()

