KRONIKAL.ORG, SAMARINDA – Siswa yang terlambat datang ke SMK Medika Samarinda tidak akan dimarahi apalagi dihukum secara fisik. Sebagai gantinya, mereka diminta membawa lima bata merah. Bagi siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah, dendanya bahkan bisa mencapai 150 bata merah.

Aturan yang terdengar tak biasa itu ternyata menjadi bagian dari sistem pembinaan karakter yang diterapkan SMK Medika selama bertahun-tahun. Menurut Kepala SMK Medika Samarinda, Mus Mulyadi, pendekatan tersebut menjadi salah satu fondasi yang mengantarkan sekolahnya berkembang pesat hingga kini memiliki hampir 1.500 siswa dan sederet prestasi di tingkat nasional.

Hal itu disampaikan Mus Mulyadi saat acara pelepasan siswa kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar di GOR Segiri Samarinda, Sabtu (30/5/2026).

“Tidak ada yang dimarahi atau dihukum keras. Tetapi setiap tindakan harus memiliki konsekuensi. Tujuannya bukan menghukum, melainkan membangun tanggung jawab dan kesadaran,” ujar Mus di hadapan ratusan siswa, orang tua, dan para tamu undangan.

Menurutnya, sistem denda bata merah diterapkan untuk berbagai bentuk pelanggaran disiplin. Siswa yang tidak melaksanakan salat dhuha, misalnya, dikenakan denda 25 bata merah. Sementara pelanggaran yang lebih berat memiliki konsekuensi yang lebih besar.

Mus mengaku metode tersebut justru mendapat respons positif dari para orang tua. Selama diterapkan, hampir tidak pernah ada keluhan terkait pola pembinaan yang dijalankan sekolah.

Bagi Mus, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada nilai akademik. Karakter, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab harus dibangun sejak dini agar siswa siap menghadapi dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

“Karakter itu modal utama. Anak yang pintar tetapi tidak punya karakter akan sulit berkembang ketika terjun ke masyarakat,” katanya.

Jumlah Siswa Terus Bertambah

Di hadapan para lulusan, Mus Mulyadi juga memaparkan perkembangan SMK Medika yang terus menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun.

Saat ini jumlah peserta didik di sekolah tersebut telah mendekati 1.500 orang. Angka itu melampaui target yang pernah dicanangkan beberapa tahun lalu.

“Dulu target kami 1.200 siswa. Alhamdulillah sekarang sudah hampir 1.500 dan tahun depan kami menargetkan bisa mencapai 2.000 siswa,” tuturnya.

Menurut dia, meningkatnya kepercayaan masyarakat tidak terlepas dari berbagai inovasi yang dilakukan sekolah, termasuk penguatan karakter, pengembangan ekstrakurikuler, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan program-program pendidikan kepada publik.

Beasiswa Miliaran dan Prestasi Nasional

Selain dikenal dengan program pendidikan gratis, SMK Medika juga menjadi salah satu sekolah dengan jumlah penerima beasiswa terbesar di Kalimantan Timur.

Tahun ini tercatat sebanyak 783 siswa menerima bantuan pendidikan dengan nilai total mencapai miliaran rupiah.

Mus memastikan seluruh dana beasiswa diterima langsung oleh siswa tanpa pemotongan apa pun.

“Dana itu hak siswa. Kami ingin seluruh bantuan benar-benar sampai kepada penerimanya,” tegasnya.

Tak hanya itu, berbagai prestasi juga terus diraih para siswa di tingkat regional maupun nasional. Mulai dari futsal, atletik, balap sepeda, desain grafis, infografis hingga sejumlah kompetisi lainnya.

Menurut Mus, keberhasilan tersebut tidak lepas dari pola pembelajaran yang lebih menekankan praktik dibanding teori.

“Komposisinya sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori. Kami ingin lulusan siap menghadapi dunia kerja dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan,” katanya.

Disdikbud Kaltim Beri Apresiasi

Perkembangan pesat SMK Medika turut mendapat perhatian dari Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin.

Dalam sambutannya, ia menyebut SMK Medika sebagai salah satu fenomena pendidikan yang menarik di Kalimantan Timur.

Menurutnya, meningkatnya jumlah siswa menjadi indikator tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan sekolah tersebut.

“Sekolah yang baik bukan hanya yang menghasilkan nilai akademik tinggi, tetapi yang mampu membuat siswa merasa nyaman, bahagia, dan memiliki ruang untuk mengembangkan bakatnya,” ujar Armin.

Ia menilai pendekatan pendidikan karakter yang diterapkan SMK Medika sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia yang saat ini didorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Di akhir sambutannya, Armin mengingatkan para lulusan tentang pentingnya karakter sebagai bekal menghadapi masa depan.

“Kalau kehilangan harta, belum tentu kehilangan segalanya. Kalau kehilangan kesehatan, kita kehilangan sebagian. Tetapi kalau kehilangan karakter, kita kehilangan semuanya,” pesannya.

Loading