KRONIKAL.ORG, SAMARINDA — Gelombang aksi 21 April 2026 di Kalimantan Timur dipastikan meluas. Tidak hanya mahasiswa dan buruh, kelompok ojek online (ojol) juga menyatakan akan ikut turun ke jalan. Keterlibatan ini ditegaskan Koordinator Aliansi Mitra Kaltim Bersatu (MKB), Lukman, yang menyebut situasi daerah saat ini berada dalam kondisi “tidak baik-baik saja”.

Pernyataan itu disampaikan Lukman saat memberikan keterangan terkait rencana aksi yang akan digelar serentak di sejumlah titik di Kaltim. Menurutnya, ojol merupakan bagian dari masyarakat yang turut merasakan langsung dampak kebijakan pemerintah.

“Ojol itu masyarakat. Kami terpanggil karena ini perjuangan masyarakat Kaltim. Kami melihat kondisi di Kaltim sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Lukman menegaskan, keikutsertaan ojol dalam aksi bukan dilandasi kepentingan politik praktis, termasuk tidak berkaitan dengan kontestasi Pilkada sebelumnya. Ia menilai persoalan yang diangkat murni menyangkut kebijakan publik yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.

“Pilkada sudah selesai. Gubernur saat ini adalah gubernur kita semua. Tapi seharusnya bekerja atas nama masyarakat, bukan atas nama keluarga,” tegasnya.

Ia juga menyoroti dugaan praktik nepotisme dalam pengambilan kebijakan, yang dinilai berpotensi memicu persoalan lebih besar seperti korupsi dan kolusi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada tata kelola pemerintahan, tetapi juga berimbas langsung pada kehidupan ekonomi masyarakat, termasuk para pengemudi ojol.

“Praktik nepotisme ini akar masalah. Bisa melahirkan korupsi, kolusi, dan merugikan masyarakat, termasuk kami yang berjuang di lapangan untuk ekonomi keluarga,” katanya.

Dalam aksi 21 April nanti, Lukman menyebut tuntutan utama dari elemen ojol adalah mendesak perubahan kepemimpinan sebagai bentuk penolakan terhadap praktik nepotisme.

“Tagline kami jelas, meminta gubernur mundur karena praktik nepotisme. Ini harus diberantas sampai ke akar,” ucapnya.

Selain isu tata kelola pemerintahan, Lukman juga menyinggung persoalan kesejahteraan ojol yang dinilai belum mendapat perhatian serius. Ia menyoroti belum adanya kejelasan terkait perlindungan maupun kebijakan yang berpihak pada pengemudi, khususnya roda dua.

“Teman-teman ojol ini masih terombang-ambing. Bahkan perjuangan mereka sampai ke Jakarta belum ada kejelasan sampai sekarang,” ungkapnya.

Terkait potensi aksi, Lukman menyebut pihaknya akan menggalang kekuatan dari berbagai daerah, termasuk Samarinda dan Balikpapan. Ia optimistis ribuan ojol akan ikut serta dalam aksi tersebut.

“Insyaallah teman-teman ojol roda dua maupun roda empat akan terpanggil. Kami akan turun dengan kekuatan penuh,” katanya.

Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya gangguan terhadap aktivitas layanan transportasi online pada hari aksi berlangsung. Namun, hal itu menurutnya akan bergantung pada keputusan masing-masing pengemudi.

“Kalau soal mematikan aplikasi, itu tergantung teman-teman. Tapi yang jelas aktivitas pasti tidak akan maksimal karena banyak yang turun aksi,” jelasnya.

Aksi 21 April sendiri disebut akan melibatkan berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, buruh, organisasi masyarakat, hingga komunitas pengemudi online. Konsolidasi terus dilakukan untuk memastikan tuntutan dapat disuarakan secara kolektif.

“Ini gerakan bersama. Mahasiswa, buruh, ojol, dan masyarakat akan turun. Kami ingin satu suara, karena situasi ini sudah darurat,” pungkas Lukman.

Loading