KRONIKAL.ORG, SAMARINDA — Rumah Sakit Primecare Samarinda resmi menggelar grand opening di Jalan Muso Salim Nomor 28, Kota Samarinda, Sabtu (08/08/2026). Rumah sakit ini membawa sejumlah layanan dan teknologi medis yang ditargetkan memperkuat pilihan layanan kesehatan bagi masyarakat Kalimantan Timur.
Direktur Rumah Sakit Primecare Samarinda, dr. Boy Eduard Richard Wajong, MKes, MQM, CRP, CMT, mengatakan grand opening menjadi bagian dari upaya memperkenalkan profil, kemampuan, serta layanan rumah sakit kepada masyarakat.
Menurut Boy, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi manajemen untuk menjelaskan langsung berbagai fasilitas yang dimiliki Primecare, sehingga informasi mengenai layanan rumah sakit tidak hanya diperoleh masyarakat dari berbagai sumber, tetapi juga dari pihak manajemen.
“Grand opening sebenarnya juga bagian dari marketing rumah sakit. Kami menyampaikan profil dan kemampuan kami, dan ini menjadi bagian dari membangun brand awareness ke depan,” ujar Boy.

Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian Primecare Samarinda adalah teknologi laser untuk layanan urologi. Teknologi tersebut dapat digunakan dalam penanganan batu ginjal maupun gangguan prostat.
Untuk kasus batu ginjal, teknologi laser memungkinkan alat masuk melalui saluran kemih hingga mencapai ginjal untuk memecah batu. Metode tersebut menjadi salah satu alternatif penanganan dibandingkan metode pemecahan batu dengan teknologi ESWL.
Sementara pada gangguan prostat, Boy menjelaskan teknologi laser dapat digunakan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih minim invasif dibandingkan operasi terbuka.
Selain teknologi laser, Primecare Samarinda juga mengembangkan layanan dengan pendekatan minimal invasif. Metode tersebut antara lain menggunakan endoskopi dan laparoskopi untuk sejumlah tindakan medis.
“Pembedahan-pembedahan klasik yang memotong jaringan sekarang menggunakan teknik yang lebih simpel, seperti penggunaan endoskopi dan laparoskopi. Dengan begitu, perdarahan dan masa rawat inap bisa lebih pendek,” katanya.
Primecare Samarinda juga tengah menyiapkan fasilitas laboratorium genomik. Menurut Boy, sebagian peralatan untuk layanan tersebut telah melalui proses pengadaan dan selanjutnya memasuki tahap instalasi sistem.
Teknologi genomik tersebut ditujukan untuk mendukung pendeteksian dini sejumlah penyakit dan kelainan. Pemeriksaan berbasis genom juga dapat digunakan untuk melihat kemungkinan risiko penyakit tertentu.
Dalam penanganan pasien kanker, pendekatan genomik dapat dikembangkan melalui farmakogenomik, yakni metode untuk membantu menentukan pilihan obat berdasarkan karakteristik genetik pasien dan subtipe penyakit.
Boy mengatakan pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketepatan dalam menentukan terapi bagi pasien.
“Subtipe penyakit dicari melalui DNA untuk diketahui obat apa yang paling tepat. Sehingga keakuratannya tinggi dan mungkin angka kesembuhannya juga lebih tinggi daripada pendekatan klasik,” lanjutnya.
Target Akreditasi September
Di sisi manajemen, Primecare Samarinda menargetkan proses akreditasi rumah sakit pada akhir September 2026. Boy menyebut akreditasi menjadi salah satu agenda terdekat yang harus diselesaikan dalam dua bulan mendatang.
Menurut dia, sistem menjadi prioritas utama dalam membangun rumah sakit sebelum mengejar target finansial.
“Kalau saya ditanyakan mana yang akan kita capai lebih dulu, finansial atau sistem, saya bilang sistem. Karena kalau sistemnya bagus, dipercaya masyarakat, finansialnya pasti menyusul,” kata Boy.
Ia mengatakan sistem kerja akan terus dibangun untuk menjaga perilaku kerja dan kualitas pelayanan seluruh sumber daya manusia yang bergabung di Primecare Samarinda.
Akreditasi juga menjadi salah satu persyaratan dalam pengembangan kerja sama dengan berbagai perusahaan asuransi, termasuk BPJS Kesehatan. Namun, terkait rencana kerja sama tersebut, Boy mengatakan pihak manajemen masih akan melakukan kajian dan koordinasi dengan pemilik rumah sakit.

Selain penguatan sistem, Primecare Samarinda juga menyiapkan pengembangan sumber daya manusia. Boy mengatakan pengalaman manajemen akan ditransfer kepada tim di Samarinda untuk membangun tata kelola rumah sakit secara berkelanjutan.
Ia menilai keberadaan dokter spesialis dan tenaga keperawatan saja belum cukup apabila tidak dibarengi dengan sistem manajemen yang berjalan efektif.
“Dokter spesialis punya, keperawatan yang spesialis punya, tapi selama manajemen tidak bergerak maka itu tidak akan memberikan hasil,” tututnya.
Dalam jangka panjang, Primecare Samarinda juga diproyeksikan menjadi model awal untuk pengembangan rumah sakit berikutnya di sejumlah wilayah Kalimantan. Boy mengatakan penguatan sistem, sumber daya manusia, teknologi, serta pengukuran keluaran layanan menjadi fondasi yang sedang dibangun.
“Ketika kita melahirkan rumah sakit yang baru, kita bisa copy paste dalam soal fondasi bagaimana menjalankannya. Jadi, kita memperkuat sistem, memperkuat SDM, menghadirkan teknologi yang update dan mengukur output dari rumah sakit,” tandasnya.
Dengan grand opening tersebut, Primecare Samarinda mulai memperkenalkan diri sebagai salah satu pilihan fasilitas layanan kesehatan di Samarinda, sekaligus menyiapkan sistem operasional dan layanan untuk menghadapi kebutuhan kesehatan masyarakat di Kalimantan Timur.
![]()



