KRONIKAL.ORG, SAMARINDA – Kemarau mulai menguji ketahanan lahan pertanian di Samarinda Utara. Sebanyak 48 hektare sawah di kawasan Betapus dan Lempake Jaya terancam kekurangan air, sementara sebagian tanaman padi masih berusia sekitar 30 hari setelah tanam.
Kondisi itu membuat Pemerintah Kota Samarinda bergerak mencari sumber air alternatif untuk mencegah tanaman mengalami kerusakan. Dua unit pompa berkapasitas besar disiapkan untuk mengalirkan air dari anak Sungai Karang Mumus menuju areal persawahan yang terdampak.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mengatakan kondisi kekeringan mulai terlihat dari tanah sawah yang mengalami retakan. Menurutnya, penanganan harus dilakukan segera agar kekurangan air tidak berkembang menjadi puso atau gagal panen.
“Lahan pertanian yang terdampak sekitar 48 hektare. Kami berharap Distapang Tani bisa segera menyuplai air ke persawahan ini sehingga tanaman tidak sampai puso dan nantinya tetap dapat dipanen,” kata Saefuddin saat meninjau kawasan pertanian Betapus, Selasa, 8 September 2026.
Upaya penyelamatan tersebut menjadi penting karena lahan pertanian di kawasan itu memiliki potensi produksi yang cukup besar. Dalam satu kali musim panen, produktivitas padi disebut dapat mencapai sekitar delapan ton per hektare.
Jika dihitung berdasarkan luasan yang terdampak, ancaman kekeringan bukan hanya menyangkut kondisi tanaman di lapangan. Keberlangsungan puluhan hektare lahan tersebut juga berkaitan dengan hasil produksi yang menjadi sumber penghidupan para petani.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Distapang Tani Samarinda Noke Pattipawaej mengatakan pemompaan air menjadi solusi sementara untuk menjaga pasokan ke lahan pertanian. Air dari anak Sungai Karang Mumus akan dialirkan menuju persawahan Betapus dan Lempake Jaya.
“Untuk sementara, kami mencari alternatif pengairan melalui sistem pemompaan dengan memanfaatkan sumber air dari anak Sungai Karang Mumus,” ujarnya.
Dua unit pompa ditargetkan ditempatkan di titik yang telah ditentukan dan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air lima kelompok tani. Jumlah petani yang berada dalam kelompok tersebut mencapai sekitar 100 orang.
Menurut Noke, perhatian khusus diberikan kepada tanaman yang masih berada pada fase awal pertumbuhan. Padi berusia sekitar 30 hari setelah tanam dinilai cukup rentan apabila harus menghadapi kekurangan air dalam waktu panjang.
Pada fase tersebut, tanaman membutuhkan ketersediaan air yang memadai agar pertumbuhannya tidak terganggu. Jika kondisi kering terus berlangsung, tanaman berpotensi mati dan pada akhirnya menyebabkan petani kehilangan hasil panen.
“Yang paling kami khawatirkan adalah sawah dengan tanaman yang baru berumur sekitar 30 hari setelah tanam. Karena itu, kami berusaha menjaga pasokan air agar tanaman tidak mati atau mengalami puso,” ungkapnya.
Penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui pemasangan pompa. Distapang Tani Samarinda juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Dinas Lingkungan Hidup untuk menentukan langkah penanganan yang dapat dilakukan.
Koordinasi lintas instansi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya penyelamatan lahan selama kemarau masih berlangsung. Pemerintah ingin memastikan tanaman yang sudah ditanam petani tetap bertahan hingga memasuki masa panen.
“Kami tentu berharap kondisi ini tidak berakhir dengan gagal panen atau puso. Meski kekeringan sudah memberikan dampak, harapannya tanaman masih dapat diselamatkan dan petani tetap memperoleh hasil panen,” tukas Noke.
Dengan ancaman kekeringan yang mulai meluas, ketersediaan air menjadi faktor penting bagi keberlangsungan pertanian di Samarinda Utara. Pemkot Samarinda kini berpacu dengan kondisi kemarau agar 48 hektare sawah tersebut tidak berakhir menjadi lahan gagal panen. (*/Jns)
![]()



